Back

Kisah Nyai Dasima

Kisah Nyai Dasima

Kisah ini berlatar di kota Batavia pada tahun 1800an. Nyai Dasima seorang gadis berasal dari sebuah kampung di Buitenzorg (Bogor) yang terkenal dengan kecantikannya membuat seorang pejabat kaya berkebangsaan Inggris bernama Edward tertarik dengannya. Edward adalah orang kepercayaan dari Thomas Stamford Raffles.

Hingga pada akhirnya Edward menikah dengan Nyai Dasima dan dikaruniai seorang anak bernama Nancy. Pada saat itu, orang bule menikahi pribumi dianggap tabu dan tidak banyak orang melakukannya. Status istri dari Nyai Dasima pun tetap dipandang remeh oleh keluarga Edward. Begitupun dengan Nyai Dasima di mata para pribumi yang melihatnya telah murtad dan kafir karena sudah menikah dengan orang yang beda agama.

Kehidupan Nyai Dasima dipenuhi dengan kemewahan. Kehidupan yang sebelumnya tidak pernah ia dapatkan dan kini ia bergelimang harta. Namun karena ada anggapan negatif dari warga pribumi itu, hidupnya tidak pernah tenang.

Suatu saat datanglah seorang pribumi bernama Samiun. Ia mengajak Nyai Dasima untuk bertaubat dan meminta untuk tinggalkan keluarganya. Ajakan ini tentu saja karena Samiun ingin menolongnya kembali ke jalan yang lurus demi menghilangkan stigma murtad dari pribumi. Samiun juga mengajak Nyai Dasima untuk menikah dengannya, Samiun sendiri sebenarnya sudah memiliki seorang istri bernama Hayati yang terkenal suka berjudi, namun ia berjanji akan menceraikan istri pertamanya nanti. Samiun tinggal bersama istri dan ibunya yang bernama Mak Buyung.

Gundah gulana lah hati Nyai Dasima, di lain sisi ia adalah seorang muslim yang taat dan takut akan hari pembalasan. Melihat anggapan orang-orang pribumi terhadapnya yang dicap sudah murtad membuat dia mantap untuk meninggalkan keluarganya dan hidup bersama dengan Samiun atas nama pertaubatan. Gejolak di dalam hatinya ini menghasilkan sebuah keputusan yang mantap. Saat itu ia meninggalkan rumah sambil membawa harta yang banyak dan pergi ke rumah Samiun dan memutuskan untuk menikah dengannya.

Dalam pernikahan itu, Nyai Dasima hidup satu rumah dengan Samiun, Hayati dan Mak Buyung. Sudah berulang kali ia menagih janji Samiun untuk menceraikan istri pertamanya Hayati, namun ia tak kunjung menepati itu. Alih-alih hidup bahagia, Nyai Dasima malah menemui neraka dunia. Ia mengalami penyiksaan dari Hayati dan Mak Buyung.

Ternyata ada niat busuk dari keluarga Samiun yang menjadi alasan lain kenapa ia ingin menikah dengan Nyai Dasima. Itu karena mereka ingin mengambil harta Nyai Dasima untuk melunasi hutang-hutang yang dibuat oleh Hayati. Mengetahui hal itu, Nyai Dasima langsung bergegas ingin pulang ke Edward, namun Samiun tak terima dan menyuruh seorang pembunuh bayaran bernama Bang Puasa untuk membunuh Nyai Dasima.

Akhirnya Nyai Dasima tertangkap dan dibunuh oleh Bang Puasa. Jasadnya dibuang ke sungai tanpa ada seorang pun yang tahu kecuali keluarga Samiun. Samiun pun bisa mempertahankan harta dari Nyai Dasima untuk bisa membayar hutang dan berfoya-foya dengan harta tersebut.

Ironisnya jasad Nyai Dasima berhasil ditemukan di sungai dekat kediaman keluarga Edward. Mengetahui hal ini, Edward melapor ke pemerintah kolonial Hindia Belanda dan menangkap keluarga Samiun dan Bang Puasa.

Akhir dari cerita ini Samiun dan Bang Puasa dijatuhi hukuman mati, sementara Hayati dijatuhi hukuman kerja paksa seumur hidup dan Mak Buyung dihukum penjara yang sangat lama.

Sebenarnya ada versi yang menyatakan bahwa alasan Nyai Dasima tergila-gila ingin menikahi Samiun adalah karena guna-guna, namun saya berfikir bahwa itu hanya untuk menyederhanakan gejolak dan gundah gulana yang dialami oleh Nyai Dasima. Bagaimanapun kisah ini sangat tragis.